Click here for Myspace Layouts

Jumaat, 10 Jun 2011

Bagaimanakah bidadarimu?

alt
"Jangan engkau kahwini wanita yang enam; yang ananah, yang mananah, dan yang hananah, dan 
jangan engkau kahwini yang hadaqah, yang baraqah dan yang syadaqah." - Imam Al-Ghazali
Wanita Ananah:
Wanita yang banyak mengeluh dan mengadu dan tiap saat memperalatkan sakit atau berpura-pura sakit.
Wanita Mananah:
Wanita yang suka mengungkit-ngungkit terhadap suaminya. Wanita ini sering menyatakan seperti; "Aku membuat itu keranamu"
Wanita Hananah:
Wanita yang menyatakan kasih sayangnya kepada suaminya yang lain, yang dikahwininya sebelum ini atau kepada anaknya dari suami yang lain.
Wanita Hadaqah:
Wanita yang melemparkan pandangan dan matanya pada tiap sesuatu, lalu menyatakan keinginannya untuk memiliki barang itu dan memaksa suaminya untuk membelinya.
Wanita Baraqah:
1) Wanita yang sepanjang hari mengilatkan dan menghias mukanya.
2) Wanita yang marah ketika makan dan tidak mahu makan kecuali sendirian dan diasingkannya bahagianya.
Wanita Syadaqah:
Wanita yang banyak bercakap perkara yang lagha (sia-sia) dan lagi membisingkan.
Jadi,kita sebagai wanita hendaklah menjaga diri...jgn terlalu terpengaruh dgn budaya 2 yg buruk pd zaman sekarang...

Khamis, 9 Jun 2011

CINTA ABU BAKAR UNTUK AL MUSTAFA...

alt'Ketika Rasulullah berada di hadapan, ku pandangi pesonanya dari kaki hingga hujung kepala. Tahukah kalian apa yang menjelma? CINTA!!' (Abu Bakar As-Siddiq r.a)
Langkah kaki pemuda Quraisy tidak lagi terdengar samar. Tak terasa tubuhnya bergetar hebat, betapa tidak, dari celah gua ia mampu melihat para pemburu itu di atas kepalanya. Sesetengah berbisik berkatalah Abu Bakar, "Wahai Rasulullah, jika mereka melihat ke kaki-kaki mereka, sesungguhnya mereka pasti melihat kita berdua."
Rasulullah memandang Abu Bakar penuh makna. Ditepuknya sahabat karibnya ini perlahan sambil berkata, "Janganlah engkau kira, kita hanya berdua. Sesungguhnya kita bertiga, dan yang ketiga adalah Dia, yang menggenggam iaitu Yang Maha Kuasa".
Sejenak ketenangan menyapa Abu Bakar. Sama sekali dia tidak khuatir keselamatannya. Kematian baginya bukan apa-apa, dia hanya lelaki biasa. Sedang untuk lelaki tampan yang kini dekat disampingnya, keselamatan diatas mati dan hidupnya.
Bagaimana semesta jadinya tanpa penerang? Bagaimana Madinah jika harus kehilangan purnama? Bagaimana dunia tanpa cahaya penyampai wahyu?
Sungguh, Baginda tidak gentar dengan tajam mata pedang para pemuda Quraisy, yang akan merobek tubuhnya serta menumpahkan darahnya. Sungguh Baginda tidak bimbang, runcing anak panah yang akan menghunjam setiap inci tubuhnya.
Baginda hanya takut Allah. Muhammad, ya Muhammad...
Mereka berdua berhadapan dan bersepakat untuk berjaga mengikut giliran. Keakraban mempesona itu bukanlah suatu kebohongan. Abu Bakar memandang wajah syahdu di depannya dalam hening. Setiap uratan di wajah indah itu dia perhatikan seksama. Aduhai betapa dia mencintai putera Abdullah.
Kelelahan yang mendera setelah perjalanan jauh, seketika seperti ditelan kegelapan gua. Wajah didepannya yang saat itu berada nyata, meleburkan penat yang dirasai. Hanya pada satu nama yang tersemat didalam dadanya, CINTA!
Kemudian Nabi Muhammad SAW melabuhkan kepalanya di pangkuan Abu Bakar seperti anak kecil, Abu Bakar berenang dalam samudera kegembiraan yang sempurna. Tidak sama yang dapat mempesonakan selama dia hidup kecuali saat kepala Nabi yang 'Ummi' berbantalkan kedua pahanya.
Mata Rasulullah terpejam. Dengan berhati-hati seperti seorang ibu, telapak tangan Abu Bakar mengusap peluh di kening Rasulullah SAW. Masih dalam senyap, Abu Bakar terus terpesona dengan susuk cinta yang sedang beristirehat dipangkuannya. Sebuah rasa mengalun dalam hatinya "Allah, betapa ingin hamba menikmati ini selamanya".
Nafas harum itu terhembus satu persatu yang menyapa di wajah Abu Bakar. Abu Bakar tersenyum sepenuh kalbu. Dia menatapnya lagi, tak bosan. Seketika wajahnya muram, dia teringat perlakuan orang-orang Quraisy yang memburu purnama Madinah seperti memburu haiwan buruan.
Bagaimana mungkin mereka begitu keji mengganggu cucu Abdul Mutalib, yang begitu jujur dan amanah. Mendung di wajah Abu Bakar belum juga surut. Sebuah kuntum keazaman memekar di dasar hatinya, begitu semerbak.
Selama hayat berada dalam raga, aku Abu Bakar, akan selalu berada disampingmu untuk membelamu dan tak akan membiarkan sesiapa pun mengganggumu.
Kesunyian tetap terasa. Gua itu begitu dingin. Abu Bakar menyandarkan tubuhnya didinding gua. Rasulullah SAW, masih tetap dalam lenanya.
Tiba-tiba sahaja, seekor ular mendesis-desis perlahan mendatangi kaki Abu Bakar yang terlentang. Abu Bakar melihatnya penuh waspada, ingin sekali dia menarik kedua kakinya untuk menjauhi dari binatang yang berbisa ini.
Namun, keinginan itu diendahkan dari benaknya, tak ingin dia mengganggu tidur lena Rasulullah SAW. Bagaimana mungkin, dia tidak membangunkan kekasihnya itu. Abu Bakar menahan sakit, ketika itu ular mematuk pergelangan kakinya, tapak kakinya dibiarkan sahaja tidak bergerak sedikit pun. Ular itu meninggalkan mereka setelah beberapa seketika.
Dalam keheningan, sekujur tubuhnya terasa panas. Bias ular menjalar ke seluruh tubuhnya. Abu Bakar menangis dalam diam. Rasa sakit itu tidak dapat ditahan lagi.
Tanpa sengaja, air matanya menitis mengenai pipi Rasulullah SAW yang tengah berbaring. Abu Bakar menghentikan tangisannya, kekhuatiran terbukti, Rasulullah SAW terjaga dan menatapnya penuh dengan rasa ingin tahu.
"Wahai hamba Allah, apakah engkau menangis kerana menyesal mengikuti perjalanan ini?" suara Rasulullah memenuhi ruang gua.
"Tentu saja tidak, saya redha dan ikhlas mengikutimu kemana jua," kata Abu Bakar yang masih dalam kesaakitan.
"Jadi mengapakah engkau menggugurkan air matamu?"
"Seekor ular baru sahaja mematukku, wahai putera Abdullah, dan bisanya menjalar begitu cepat."
Rasulullah menatap Abu Bakar dengan penuh kehairanan, tidak berapa lama bibir manisnya bergerak, "Mengapa engkau tidak menghindarinya?"
"Aku bimbang mengejutkan engkau dari lenamu," jawab Abu Bakar sendu.
Sebenarnya dia kini menyesal kerana tidak dapat menahan air matanya jatuh mengenai pipi Rasulullah SAW dan membuatnya terjaga. Saat itu air mata bukan milik Abu Bakar sahaja. Selanjutnya mata al-mustafa berkabut dan bening air mata tergenang dipelupuknya.
Betapa indah sebuah ukhuwah.
"Sungguh bahagia, aku memiliki seorang sepertimu wahai putera Abu Quhafah. Sesungguh Allah sebaik-baik pemberi balasan".
Tanpa menunggu waktu, dengan penuh kasih sayang, al-mustafa memengang pergelangan kakinya yang dipatuk ular. Dengan menggunakan nama Allah Pencipta semesta alam, Nabi mengusap bekas patukan ular itu dengan air liurnya.
Maha suci Allah, sketika rasa sakit itu tiada lagi. Abu Bakar segera menarik kakinya kerana malu. Nabi masih memandangnya dengan rasa penuh kasih sayang.
"Bagaimana mungkin, mereka iaitu para kafir sanggup menyakiti manusia indah sepertimu. Bagaimana mungkin?" kata Abu Bakar.
Gua Thur kembali ditelan kegelapan malam. Kini giliran Abu Bakar beristirehat dan Rasulullah SAW pula berjaga. Abu Bakar menggelengkan kepala ketika Rasulullah menawarkan pangkuan Baginda.
"Tak ku rela diriku membebani pangkuan penuh abbarakah itu."
Kita pasti tahu siapa Abu Bakar. Beliau adalah lelaki pertama yang memeluk Islam dan juga salah seorang sahabat yang paling dekat dengan Rasulullah. Dari kembara sejarah, kita kenang cinta Abu Bakar terhadap Al-Mustafa.
Abu Bakar wafat pada usia 63 tahun, pada saat peperangan atas bangsa Romawi di Yarmuk. Jenazahnya dikebumikan disebelah manusia yang paling dicintainya, iaitu Makan Rasulullah SAW. Dia mencintai Nabinya melebihi diri sendiri.
Tidakkah itu mempersonakan?

Isnin, 6 Jun 2011

Cinta Dalam Diam..


alt
Bila belum bersedia melangkah lebih jauh dengan seseorang, cukup cintai ia dalam diam ...
Karena diammu adalah salah satu bukti cintamu padanya ...
Kau ingin memuliakan dia, dengan tidak mengajaknya menjalin hubungan yang terlarang,
Kau tak mau merosak kesucian dan penjagaan hatinya..
Karena diammu memuliakan kesucian diri dan hatimu..
Menghindarkan dirimu dari hal-hal yang akan merusak izzah dan iffahmu ..
Karena diammu bukti kesetiaanmu padanya ..
Karena mungkin saja orang yang kau cinta adalah juga orang yang telah ALLAH swt pilihkan untukmu ...
Ingatkah kalian tentang kisah Fatimah dan Ali??
Yang keduanya saling memendam apa yang mereka rasakan ...
Tapi pada akhirnya mereka dipertemukan dalam ikatan suci nan indah ....
Karena dalam diammu tersimpan kekuatan ... kekuatan harapan ...
Hingga mungkin saja Allah akan membuat harapan itu menjadi nyata hingga cintamu yang diam itu dapat berbicara dalam kehidupan nyata ...
Bukankah Allah tak akan pernah memutuskan harapan hamba yang berharap pada-Nya??
Dan jika memang 'Cinta Dalam Diammu'  itu tak memiliki kesempatan untuk berbicara di dunia nyata, biarkan ia tetap diam ...
Jika dia memang bukan milikmu, Allah, melalui waktu akan menghapus 'Cinta Dalam Diammu' itu dengan memberi rasa yang lebih indah dan orang yang tepat ...
Biarkan 'Cinta Dalam Diammu'  itu menjadi memori tersendiri dan sudut hatimu menjadi rahsia antara kau dengan Sang Pemilik hatimu ...
Cintailah ia dalam diam, dari kejauhan, dengan kesederhanaan dan keikhlasan...
Ketika cinta kini hadir tidaklah untuk Yang Maha Mengetahui saat secercah rasa tidak lagi tercipta untuk Yang Maha Pencipta izinkanlah hati bertanya untuk siapa ia muncul dengan tiba-tiba...mungkinkah dengan ridha-Nya atau hanya mengundang murka-Nya...
Jika benar cinta itu karena Allah maka biarkanlah ia mengalir mengikuti aliran Allah karena hakikatnya ia berhulu dari Allahmaka ia pun berhilir hanya kepada Allah..
" Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah ." (QS. Adz Dzariyat:49)
" Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas(pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. " (QS. An Nuur: 32)
" Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. "  (QS. Ar-Ruum:21)
Tapi jika memang kelemahan masih nyata dipelupuk mata maka bersabarlah... berdo'alah... berpuasalah...
" Wahai kaum pemuda, siapa saja diantara kamu yang sudah sanggup untuk menikah, maka menikahlah, sesungguhnya menikah itu memelihara mata, dan memelihara kemaluan, maka bila diantara kamu belum sanggup untuk menikah, berpuasalah, karena ssungguhnya puasa tersebut sebagai penahannya " (Hadist) "
" Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. " (QS. Al Israa' :32)
Cukup cintai ia dalam diam...
bukan karena membenci hadirnya.. .tapi menjaga kesuciannya bukan karena menghindari dunia... tapi meraih surga-Nya bukan karena lemah untuk menghadapinya.. .tapi menguatkan jiwa dari godaan syaitan yang begitu halus dan menyelusup..
Cukup cintai ia dari kejauhan...
karena hadirmu tiada kan mampu menjauhkannya dari cobaan karena hadirmu hanya akan menggoyahkan iman dan ketenangan karena hadirmu mungkin saja akan membawa kenelangsaan hati-hati yang terjaga...
Cukup cintai ia dengan kesederhanaan...
memupuknya hanya akan menambah penderitaan menumbuhkan harapan hanya akan mengundang kekecewaan mengharapkan balasan hanya akan membumbui kebahagiaan para syaitan...
Maka cintailah ia dengan keikhlasan...
karena tentu kisah Fatimah dan Ali bin Abi Thalib diingini oleh hati... tapi sanggupkah jika semua berakhir seperti sejarah cinta Salman Al Farisi...?
"...boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. " (QS. AlBaqarah:216) "
" Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)" (QS.An Nuur:26) "
Cukup cintai ia dalam diam dari kejauhan dengan kesederhanaan dan keikhlasan...
karena tiada yang tahu rencana Tuhan... mungkin saja rasa ini ujian yang akan melapuk atau membeku dengan perlahan karena hati ini begitu mudah untuk dibolak-balikan... serahkankan rasa yang tiada sanggup dijadikan halal itu pada Yang Memberi dan Memilikinya biarkan ia yang mengatur semuanya hingga keindahan itu datang pada waktunya...
" Barangsiapa menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga. " (Umar bin Khattab ra.)

Selasa, 31 Mei 2011

Kerana Aku Lebih Sayangkan ALLAH..


Hari ini, aku luangkan masa lapangku dengan melayari internet, laman sosial yang digilai para remaja 
masa kini. Aku nampak di homepage, kawan aku ni like satu link yang menarik perhatianku.
"Aleesya likes a link."
Oh, dari iluvislam.com rupanya. Semua artikel yang ada katiluvislam.com sangat menarik. Dari laman web ini lah aku dapat banyak pengajaran. Banyak yang aku perlu tahu. Banyak yang aku perlu pelajari.
Tapi entah lah... artikel yang satu ni sangat menarik, dan membuka mata hatiku.. tajuknya :
Maaf, Ini Adalah Yang Terbaik.
"Apa yang aku dah buat ni....?
Astaghfirullah, selama ni aku ingin mencari keredhaan Allah. Aku ingin berdakwah. Aku kongsi artikel Islam untuk semua kawan aku. Kononnya ingin memuhasabahkan diri, dan juga kawan-kawan yang lain. Tapi apa yang telah aku lakukan?
Aku masih melakukan dosa! Dosa yang 'izhar'. Terang dan nyata. Aku masih bercinta! Cinta yang belum lagi halal dan sah buatku. Ya Allah....apa yang telah aku lakukan ni...?"
Aku berfikir sejenak.
Sebelum ni kami memang pernah berbincang mengenai hal ini. Couple itu haram. Tapi disebabkan terlalu cinta, kami masih belum sedia untuk memutuskan hubungan ini. Kami terlalu sayangkan hubungan ini. Dan aku, terlalu sayangkan dirinya. Sebab dialah yang banyak mengajar aku apa erti cinta.
Sebelum ni aku pernah dikecewakan oleh seorang lelaki. Aku serik. Tapi kehadirannya dalam hidupku mengubah segalanya. Aku yakin, dia adalah untukku. Tapi perjalanan kami masih terlalu jauh. Aku sangat sayangkan dirinya, tapi aku lebih sayangkan Allah.
Mungkin inilah saatnya untuk mengatakan semuanya kepada si dia. Ya Allah, berikanlah aku kekuatan. Semoga Engkau permudahkan semua ini... Hatiku berkata. Aku sengaja kongsi artikel itu kat social network aku.
Si dia: Saya baca link yang awak share tu..
Saya: Oh artikel tu.. yeap.
Si dia: Semua artikel mengenai couple dalam Islam yang saya baca, semua macam tu. Hmm..
Saya: Saya nak beritahu kat awak sesuatu yang sangat penting. Sebenarnya, perjalanan kita masih jauh lagi. Kita masih belajar, 3 tahun lagi baru nak grad. Kita sama-sama nak mencari keredhaan-Nya, tapi kita masih melakukan dosa.
Walaupun tidak melakukan zina yang zahir, tapi kita masih berzina hati. Awak faham kan maksud saya? Kita masih merindui diri masing-masing. Sedangkan kita tahu, kita masih belum ada ikatan. Terlalu jauh nak fikirkan semua tu. Saya rasa bersalah kat Allah. Sebab saya cakap saya sayangkan Allah, tapi saya masih tak dapat tinggalkan apa yang saya cintai..
Si dia: Saya tahu. Kita cakap mengenai Islam, kita berdakwah, tapi kita sendiri belum betul-betul tinggalkan apa yang Islam suruh kita tinggalkan. Saya pun ada berfikir pasal ni jugak.. Terasa diri ni hipokrit, sebab saya suruh kawan buat benda yang baik, tapi saya sendiri masih melakukan dosa..
Saya: Saya dah lama berfikir pasal ni sebenarnya. InsyaAllah, inilah masanya. Hmm, awak.. Mungkin ini saatnya untuk kita berpisah... kerana Allah. Saya nak buktikan kepada Allah, yang saya lebih sayangkan Allah, lebih dari segalanya..
Si dia: Kerana Allah kita berjumpa, kerana Allah juga kita berpisah. Kita hanya ciptaan-Nya, memang patut kita sayangkan Allah lebih dari apapun. Saya setuju kalau semua ini kerana Allah. Awak, mungkin ini berat untuk awak, saya pun terasa berat juga.
Tapi sebagai hamba, kita mesti berusaha untuk mencari keredhaan-Nya, kita mesti berkorban. Awak doalah banyak-banyak.. InsyaAllah, kalau kita ada jodoh, Allah akan pertemukan kita kembali. Simpanlah air mata tu. Assalamualaikum. Jaga diri baik-baik ye, awak...
Ya Allah... Hubungan yang hampir 3 tahun terjalin tu telah pun berakhir. Berat, memang berat. Hati ini berat untuk melepaskan kata berpisah. Aku tahu, hatinya juga terasa berat untuk merelakan aku pergi. Kami sama-sama setuju untuk berpisah hanya kerana Allah. Air mata ini mengalir, dan terus mengalir. Aku terus saja inform sahabat karib aku, sebab dialah satu-satunya sahabat yang memahami aku.
"Memang bukan senang untuk lupakan, tapi terimalah, sebab awak lakukan ini kerana Allah. Buktikan kalau awak memang sayang kat dia sebab Allah. Hati ini memang badan yang punya, tapi hakikatnya, Allah yang punya.
Kalau Allah yang punya, mestilah Allah lebih berkuasa terhadapnya, kan? Redha lah.. sebab kalau kita lepaskan sesuatu tu kerana Allah, InsyaAllah, Allah akan permudahkan. Memang lepas ni awak akan rasa kosong, sebab hari-hari tu selalu ada diriya. Apatah lagi hubungan ini berakhir bukan dengan cara yang tidak baik. Lagi sukar untuk melupakannya. Awak bawa solat banyak-banyak, berdoalah supaya dia adalah jodoh awak. Baca Al-Quran supaya hati awak tenang..."
Aku redha dengan ketentuan Ilahi. Biarlah aku korbankan cintaku terhadap si dia semata-mata kerana Allah. Kerana aku yakin, Allah tidak akan mensia-siakan pengorbanan hamba-Nya. Aku ada pernah terbaca...
".. rindu yang disertai dengan menjaga diri padanya dan menyembunyikannya daripada orang-orang, maka padanya pahala, bahkan Ath-Thohawi menukil dalam kitab Haasyi'ah Marakil Falah dari Imam Suyuthi yang mengatakan bahawa termasuk dari golongan syuhada di akhirat ialah orang-orang yang mati dalam kerinduan dengan tetap menjaga kehormatan diri dan disembunyikan daripada orang ramai meskipun kerinduan itu timbul daripada perkara yang haram."
Kali ini, biarlah aku mencintai dan merinduinya dalam diam. Biarlah aku memendam kerinduan dan cintaku terhadapnya sehingga sampai waktunya. Jodoh itu ditangan Allah. Aku tidak akan berputus asa. Aku akan berdoa semoga dia adalah untukku, InsyaAllah.
"Seandainya telah Engkau catatkan dia tercipta buatku, satukanlah hatinya dengan hatiku, Ya Allah. Tetapi ya Allah, seandainya telah Engkau takdirkan dia bukan milikku, bawalah ia jauh dari pandanganku, luputkanlah ia dari ingatanku, dan peliharalah aku dari kekecewaan.."
Hati ini memang lemah, memang sedih, tapi Allah telah berfirman..
Surah Al-Imran, ayat 139 yang bermaksud:
"Janganlah kamu bersikap lemah dan jangan pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi darjatnya jika kamu orang-orang yang beriman."
Surah At-Tawbah, ayat 40 yang bermaksud:
"Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita."